Chandra, Steffany (2026) REPRESENTASI TRAUMA KEKERASAN RUMAH TANGGA DALAM FILM BOLEHKAH SEKALI SAJA KUMENANGIS (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES). S1 thesis, Universitas Mercu Buana Jakarta- Menteng.
|
Text (COVER)
44122010039-Stefanny Chandra- 01 Cover - Stefanny Chandra.pdf Download (626kB) |
|
|
Text (BAB 1)
44122010039-Stefanny Chandra-02 Bab 1 - Stefanny Chandra.pdf Restricted to Registered users only Download (269kB) |
|
|
Text (BAB 2)
44122010039-Stefanny Chandra-03 Bab 2 - Stefanny Chandra.pdf Restricted to Registered users only Download (155kB) |
|
|
Text (BAB 3)
44122010039-Stefanny Chandra-04 Bab 3 - Stefanny Chandra.pdf Restricted to Registered users only Download (223kB) |
|
|
Text (BAB 4)
44122010039-Stefanny Chandra-05 Bab 4 - Stefanny Chandra.pdf Restricted to Registered users only Download (442kB) |
|
|
Text (BAB 5)
44122010039-Stefanny Chandra-06 Bab 5 - Stefanny Chandra.pdf Restricted to Registered users only Download (106kB) |
|
|
Text (DAFTAR PUSTAKA)
44122010039-Stefanny Chandra-08 Daftar Pustaka - Stefanny Chandra.pdf Restricted to Registered users only Download (179kB) |
|
|
Text (LAMPIRAN)
44122010039-Stefanny Chandra-09 Lampiran - Stefanny Chandra.pdf Restricted to Registered users only Download (115kB) |
Abstract
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sering kali meninggalkan luka yang tidak terlihat berupa dampak psikologis jangka panjang bagi korbannya. Realitas sosial inilah yang diangkat dalam film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis produksi Sinemaku Pictures. Penelitian ini ditujukan untuk mengkaji bagaimana trauma akibat perilaku figur ayah yang abusif dan otoriter dipresentasikan serta dimaknai dalam karya sinema tersebut.Guna membongkar pesan tersirat di dalamnya, penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis paradigma konstruktivisme dengan pisau analisis semiotika Roland Barthes. Landasan teori dibangun melalui integrasi konsep komunikasi massa, elemen sinematografi, ketimpangan relasi kuasa dalam budaya patriarki, serta sudut pandang feminisme. Data primer diperoleh melalui pengamatan mendalam dan dokumentasi tangkapan layar (screen capture) terhadap 10 adegan terpilih pada platform Netflix, dengan meneliti kombinasi elemen visual, tata suara, ekspresi, hingga dinamika interaksi antartokoh. Hasil penelitian mengungkapkan tiga tingkatan pemaknaan. Secara denotasi, film ini memperlihatkan bentuk kekerasan fisik, bentakan verbal, serta respons emosional tokoh utama (Tari) seperti menangis dan memendam perasaan. Secara konotasi, figur ayah yang dominan dan sikap pasrah sang ibu mencerminkan ketimpangan posisi dalam ruang domestik, sementara tindakan Tari yang menarik diri menjadi wujud pertahanan diri (coping mechanism) atas tekanan batin yang dialaminya. Pada tingkat mitos, film ini mengkritik kebiasaan masyarakat yang cenderung menormalisasi kontrol laki-laki demi menjaga status keutuhan keluarga, sekaligus membawa pesan baru bahwa mengekspresikan emosi dan menangis bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian penting dari proses pemulihan trauma. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film Bolehkah Sekali Saja Kumenangis berfungsi lebih dari sekadar hiburan, melainkan juga media edukasi yang menggugah kesadaran publik mengenai pentingnya ruang aman, dukungan moral bagi korban KDRT, serta penghentian stigma terhadap isu kesehatan mental.
| Item Type: | Thesis (S1) |
|---|---|
| NIM/NIDN Creators: | 44122010039 |
| Uncontrolled Keywords: | Representasi, Trauma, Kekerasan Dalam Rumah Tangga, Semiotika Roland Barthes, Film. |
| Subjects: | 000 Computer Science, Information and General Works/Ilmu Komputer, Informasi, dan Karya Umum > 070 Documentary Media, Educational Media, News Media, Journalism, Publishing/Media Dokumenter, Media Pendidikan, Media Berita, Jurnalisme, Penerbitan |
| Divisions: | Fakultas Ilmu Komunikasi > Penyiaran |
| Depositing User: | ZAHRA AULIA FEBRIANI |
| Date Deposited: | 10 Oct 2026 03:13 |
| Last Modified: | 10 Oct 2026 03:13 |
| URI: | http://repository.mercubuana.ac.id/id/eprint/104339 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
