WONGIYANTO, ROMEO FERIYAN (2026) REPRESENTASI KEHENINGAN DALAM FILM PENDEK THE SILENT CHILD (Analisis Semiotika Roland Barthes). S1 thesis, Universitas Mercu Buana Jakarta.
|
Text (HAL COVER)
COVER.pdf Download (402kB) | Preview |
|
|
Text (BAB I)
BAB I.pdf Restricted to Registered users only Download (164kB) |
||
|
Text (BAB II)
BAB II.pdf Restricted to Registered users only Download (211kB) |
||
|
Text (BAB III)
BAB III.pdf Restricted to Registered users only Download (368kB) |
||
|
Text (BAB IV)
BAB IV.pdf Restricted to Registered users only Download (454kB) |
||
|
Text (BAB V)
BAB V.pdf Restricted to Registered users only Download (33kB) |
||
|
Text (DAFTAR PUSTAKA)
DAFTAR PUSTAKA.pdf Restricted to Registered users only Download (161kB) |
||
|
Text (LAMPIRAN)
LAMPIRAN.pdf Restricted to Registered users only Download (162kB) |
Abstract
Silence in film is not merely the absence of sound, but can represent the communication experiences and social lives of deaf individuals. The short film The Silent Child portrays Libby, a deaf child, as she faces communication barriers within her family and school environment, as well as the use of sign language as an inclusive form of communication. This study aims to analyze the representation of the meaning of silence in the short film The Silent Child using Roland Barthes’ semiotic approach. The study employs an interpretive paradigm with a qualitative approach. The unit of analysis consists of seven key scenes selected through purposive sampling and analyzed through the levels of denotation, connotation, and myth. The findings show that, at the denotative level, silence is represented through audiovisual elements, expressions, gestures, and Libby’s difficulty in understanding verbal communication. At the connotative level, silence represents alienation, communication barriers, and social isolation, but also becomes a space for inclusive communication when sign language is understood and accepted as an equal form of communication. At the level of myth, seven myths were identified concerning the dominance of verbal communication as an ideal form of communication, as well as counter-myths positioning sign language as an equal form of communication. The findings reveal a duality in the meaning of silence, namely silence as a symbol of alienation and as a space for inclusive communication. Keywords: Silence, Roland Barthes’Semiotics, The Silent Child, Inclusive Communication, Deaf Individuals. Keheningan dalam film tidak hanya berkaitan dengan ketiadaan suara, tetapi dapat menjadi tanda yang merepresentasikan pengalaman komunikasi dan kehidupan sosial penyandang tunarungu. Film pendek The Silent Child menggambarkan pengalaman Libby sebagai anak penyandang tunarungu dalam menghadapi keterbatasan komunikasi di lingkungan keluarga dan sekolah, sekaligus memperlihatkan penggunaan bahasa isyarat sebagai bentuk komunikasi inklusif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi makna keheningan dalam film pendek The Silent Child menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretatif dengan pendekatan kualitatif dan metode analisis semiotika Roland Barthes. Unit analisis terdiri atas tujuh adegan kunci yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan keterkaitannya dengan representasi keheningan dalam film. Analisis dilakukan melalui tiga tingkat pemaknaan, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotasi, keheningan direpresentasikan melalui elemen audio-visual, ekspresi karakter, gestur, serta keterbatasan Libby dalam memahami komunikasi verbal di lingkungan sekitarnya. Pada tingkat konotasi, keheningan merepresentasikan keterasingan, hambatan komunikasi, dan keterisolasian sosial ketika lingkungan tidak mampu memenuhi kebutuhan komunikasi Libby. Sebaliknya, keheningan juga direpresentasikan sebagai ruang komunikasi yang inklusif ketika bahasa isyarat digunakan dan dipahami sebagai bentuk komunikasi yang setara. Pada tingkat mitos, ditemukan tujuh mitos yang menunjukkan dominannya pandangan bahwa komunikasi verbal merupakan bentuk komunikasi yang ideal dan valid, sekaligus munculnya mitos tandingan yang menempatkan bahasa isyarat sebagai bahasa isyarat sebagai bentuk komunikasi yang setara. Temuan utama penelitian menunjukkan adanya dualitas makna keheningan dalam film pendek The Silent Child, yaitu keheningan sebagai simbol keterasingan dan keheningan sebagai ruang komunikasi yang inklusif. Dengan demikian, makna keheningan dalam film tidak bersifat tunggal, tetapi dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, serta cara lingkungan memandang komunikasi penyandang tunarungu. Kata Kunci : Keheningan, Semiotika Roland Barthes, The Silent Child, Komunikasi Inklusif.
Actions (login required)
![]() |
View Item |
