SYAKINAH, SAFANA ANANTA (2026) CO-READING SPACE: PERPUSTAKAAN BERBASIS RUANG HIBRIDA DI KOTA TANGERANG. S1 thesis, Universitas Mercu Buana Jakarta.
|
Text (HAL COVER)
Cover.pdf Download (449kB) | Preview |
|
|
Text (BAB I)
Bab 1.pdf Restricted to Registered users only Download (453kB) |
||
|
Text (BAB II)
Bab 2.pdf Restricted to Registered users only Download (4MB) |
||
|
Text (BAB III)
Bab 3.pdf Restricted to Registered users only Download (2MB) |
||
|
Text (BAB IV)
Bab 4.pdf Restricted to Registered users only Download (709kB) |
||
|
Text (BAB V)
Bab 5.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
||
|
Text (DAFTAR PUSTAKA)
Daftar Pustaka.pdf Restricted to Registered users only Download (216kB) |
||
|
Text (LAMPIRAN)
Lampiran.pdf Restricted to Registered users only Download (15MB) |
Abstract
The rapid development of digital technology and changes in social behavior, particularly among Generation Z, have significantly influenced how people access information and utilize public spaces. Libraries as public facilities face challenges in maintaining their relevance amid the dominance of digital media and the declining reading interest of society. Tangerang City, as an urban area with high population growth and dynamic activities, requires public spaces that are able to integrate educational, social, and economic functions. Based on the Reading Interest Index TGM, Tangerang City remains in the moderate category and has not yet exceeded the national average, indicating the need for an innovative design approach to increase literacy activities and visitor engagement. The design project entitled “Co-Reading Space: A Hybrid Space-Based Library in Tangerang City” aims to integrate library and commercial functions within a single building through a hybrid architecture approach. The design methodology includes literature studies, precedent studies, site observations, and macro, meso, and micro analyses covering accessibility, environmental conditions, climate, and regulatory aspects. The hybrid spatial concept is applied through the integration of individual and collective zones, educational and commercial zones, as well as digital and analog zones to create a balanced environment that supports reading, learning, working, and social interaction. The design outcome demonstrates that the integration of reading spaces with commercial areas such as cafes, workshops, and makerspaces can enhance social interaction without disrupting the primary function of the library. The application of hybrid architectural principles enables the creation of flexible, inclusive, and adaptive spaces that respond to user needs and tropical climatic conditions. Therefore, the Co-Reading Space is expected to function as a contemporary public facility that supports literacy development, community activities, and the growth of the creative economy in Tangerang City. Keywords: Co-Reading Space, Hybrid Library, Hybrid Architecture, Public Space Perkembangan teknologi digital dan perubahan pola perilaku masyarakat, khususnya generasi Z, telah memengaruhi cara individu mengakses informasi serta memanfaatkan ruang publik. Perpustakaan sebagai fasilitas publik mengalami tantangan untuk tetap relevan di tengah dominasi media digital dan menurunnya minat baca masyarakat. Kota Tangerang sebagai wilayah perkotaan dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas urban yang tinggi menunjukkan kebutuhan akan ruang publik yang mampu mengakomodasi fungsi edukasi, sosial, dan ekonomi secara terpadu. Berdasarkan data Tingkat Kegemaran Membaca (TGM), Kota Tangerang masih berada pada kategori sedang dan belum melampaui nilai nasional, sehingga diperlukan pendekatan perancangan yang inovatif untuk meningkatkan minat kunjungan dan aktivitas literasi masyarakat. Perancangan Co-Reading Space: Perpustakaan Berbasis Ruang Hibrida di Kota Tangerang bertujuan untuk mengintegrasikan fungsi perpustakaan dan komersial dalam satu bangunan melalui pendekatan arsitektur hibrida. Metode perancangan dilakukan melalui studi literatur, studi preseden, observasi tapak, serta analisis data makro, meso, dan mikro yang mencakup aspek aksesibilitas, lingkungan, iklim, dan regulasi. Konsep ruang hibrida diterapkan dengan pengelompokan zona individu dan kolektif, zona edukasi dan komersial, serta zona digital dan analog guna menciptakan keseimbangan antara aktivitas membaca, belajar, bekerja, dan bersosialisasi.Hasil perancangan menunjukkan bahwa integrasi ruang baca dengan area komersial seperti kafe, workshop, dan makerspace mampu meningkatkan interaksi sosial tanpa mengganggu fungsi utama perpustakaan. Penerapan prinsip arsitektur hibrida juga memungkinkan terciptanya ruang yang fleksibel, inklusif, dan adaptif terhadap kebutuhan pengguna serta karakter iklim tropis. Dengan demikian, Co-Reading Space diharapkan dapat menjadi fasilitas publik yang mendukung peningkatan literasi, aktivitas komunitas, dan pertumbuhan ekonomi kreatif di Kota Tangerang. Kata kunci : Co-Reading Space, Perpustakaan Hibrida, Arsitektur Hibrida, Ruang Publik
Actions (login required)
![]() |
View Item |
